BERGEMBIRA MENYAMBUT BULAN PUASA

Oleh: Dr. Dudung Abdul Rohman, M.Ag (Widyaiswara Keagamaan BDK Bandung)

Email: dungrahmani@yahoo.com


Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan bulan Puasa. Sekalipun sudah tak terhitung lagi dan berkali-kali kita berjumpa dengan bulan yang agung ini, namun tetap kita sangat merindukan kehadirannya. Karena selama bulan Puasa, selain kita selaku orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa, juga disediakan pahala yang berlipat ganda. Oleh karena itu, bulan Puasa merupakan syahrul ‘ibadah, bulan untuk memperbanyak ibadah. Menurut riwayat, bahwa ibadah sunat yang dilakukan pada bulan Puasa akan dihargai sama dengan pahala ibadah wajib, dan ibadah wajib akan diberi pahala berlipat ganda hingga tujuh puluh kali lipat. Dengan demikian, kehadiran bulan Puasa ini harus disambut dengan penuh gembira dan bahagia. Tetapi dalam kenyataannya, terdapat beberapa tipe umat Islam dalam menyikapi kehadiran bulan Puasa. Pertama, di antara mereka ada yang biasa-biasa dan tidak terpengaruh apa-apa dengan kehadiran bulan Puasa. Menurut kelompok ini, datangnya bulan Puasa hanyalah perputaran waktu yang akan datang dan pergi seiring dengan pergantian bulan dan tahun. Sehingga kehadiran bulan Puasa sepertinya tidak bermakna apa-apa bagi mereka, juga tidak akan memberikan perubahan yang berarti bagi hidupnya, kecuali hanyalah menjalani rutinitas kehidupan.

            Kedua, di antara umat Islam ada yang merasa berat, cemas, dan galau ketika hendak berjumpa dengan bulan Puasa. Karena dalam benak mereka sudah terbayang, bahwa dengan datangnya bulan Puasa harga-harga kebutuhan pokok akan melonjak naik, harus menyediakan makan sahur dan buka puasa yang variatif, belum lagi kebutuhan untuk lebaran, tunjangan hari raya (THR), dan segala keperluan untuk mudik lebaran. Sehingga pikirannya disibukkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya konsumtif, sementara kewajiban untuk mengisi bulan Puasa dengan berbagai amalan ibadah menjadi terabaikan.

            Ketiga, kebanyakan umat Islam tentunya merasa bergembira dan bahagia ketika akan berjumpa dengan bulan Puasa. Mereka sangat menantikan dan mendambakan bisa berjumpa dengan bulan yang agung dan penuh berkah ini. Bahkan mereka selalu berdoa kepada Allah SWT supaya dapat disampaikan ke bulan Puasa supaya dapat mengisinya dengan berbagai amal ibadah dan amal saleh. Hal ini tentunya sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat yang ingin sekali berjumpa dengan bulan Puasa. Bahkan kalau bisa semua bulan itu namanya bulan Puasa, saking ingin terus bercengkrama dengan bulan Puasa. Sehingga jika akan berpisah dengan bulan Puasa ini, mereka merasa sedih dan menangis. Kondisi ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dalam hadis, bahwasannya Nabi saw bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadhan, yakni bulan yang penuh keberkahan, Allah telah mewajibkan kepadamu shaum pada bulan itu, dibukakan pada bulan itu pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dan dirantai pada bulan itu syaitan-syaitan. Pada bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikannya, maka sesungguhnya akan tertutup mendapatkan kebaikan” (HR. Ahmad).

            Berdasarkan hadis di atas, bahwa selama bulan Puasa sangat terbuka kesempatan untuk melakukan berbagai amal ibadah dan kebaikan-kebaikan. Sehingga bulan Puasa menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah. Berdasarkan beberapa riwayat, bahwa ada beberapa amalan ibadah sunnah yang dicontohkan Rasulullah saw dan sangat dianjurkan dilakukan selama bulan Puasa, yaitu:

            Pertama, sedekah yaitu memberikan kebaikan berupa kekayaan, barang, atau makanan kepada orang lain. Dalam hadis disebutkan, “Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. At-Tirmidzi). Apalagi bila memberikan sedekah berupa makanan untuk berbuka puasa yang pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa. Dalam hadis disebutkan, “Barangsiapa memberi sesuatu kepada orang berpuasa untuk berbuka, baginya pahala sebesar pahala yang diterima oleh yang puasa tanpa dikurangi sedikit pun juga” (HR. Ahmad dan At-Tirmadzi).

            Kedua, qiyamullail atau shalat sunat tarawih pada malam-malam selama bulan Puasa. Rasulullah saw menganjurkan supaya menghidupkan malam-malam bulan Puasa dengan mengerjakan shalat. Dalam hadis ditegaskan, “Barangsiapa yang bangun untuk ibadah pada malam-malam bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan ridha Allah, niscaya dosanya yang telah lalu diampuni” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

            Ketiga, tadarrus al-Qur’an atau membaca dan mempelajari Alquran. Rasulullah saw sangat menganjurkan supaya selama bulan Ramadhan aktif membaca dan mempelajari Alquran. Bahkan dalam riwayat dikatakan, bahwa pada bulan Ramadhan Malaikat Jibril selalu turun mendatangi Beliau untuk mengajarkan Alquran. Apalagi bulan Ramadhan itu disebut syahrul Qur’an, bulan turunnya Alquran, yang di antara fungsi Alquran itu sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan, dan menjadi pembeda antara yang benar dan yang salah. Alangkah eloknya jika selama bulan Puasa kita mengintensifkan mengkaji dan mempelajari Alquran supaya mendapatkan banyak keberkahan selama bulan Ramadhan.

            Keempat, i’tikaf yaitu memperbanyak berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Selama ini kita sangat disibukkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat keduniaan, sehingga terkadang kita agak mengabaikan kewajiban untuk beribadah. Maka dengan i’tikaf dapat menjadi terapi spiritual, bahwa dalam hidup ini kita selaku hamba harus terus membina hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT melalui ibadah. Bukankah tujuan utama diciptakannya manusia itu untuk beribadah kepada Allah? Maka dengan i’tikaf ini kita diingatkan akan tujuan mulia diciptakannya manusia untuk beribadah dan menyembah hanya kepada Allah SWT.

            Kelima, umrah yaitu berkunjung ke Baitullah untuk mengerjakan tawaf dan sa’i pada bulan Ramadhan. Memang kalau diperhatikan, ibadah umrah selama Ramadhan itu sangat padat dan banyak peminatnya sekalipun lebih besar ongkosnya dari biasanya. Kalau kita memiliki kelebihan harta dan kesempatkan, alangkah baiknya apabila dapat melakukan umarah pada bulan Ramadhan, sebagaimana anjuran Rasulullah saw, “Umrah pada bulan Ramadhan sama dengan melaksanakan ibadah haji bersamaku” (Muttafaq ‘Alaih).

            Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang sangat bahagia dan bergembira ketika hendak berjumpa dengan bulan Puasa. Sehingga selama bulan Puasa kita dapat memanfaatkannya untuk melaksanakan berbagai aktivitas ibadah dan kebaikan-kebaikan untuk menjemput pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang bergembira dengan kehadiran bulan Puasa, maka diharamkan baginya neraka”.

            Wallahu A’lam Bish-Shawab.

 

24/03/2021

0 responses on "BERGEMBIRA MENYAMBUT BULAN PUASA"

    Leave a Message

    Your email address will not be published.

    Balai Diklat Keagamaan Bandung © 2021
    X