PENTINGNYA MEMBINA TOLERANSI UMAT BERAGAMA

Oleh: Dudung Abdul Rohman (Widyaiswara Keagamaan BDK Bandung)

Email: dungrahmani@yahoo.com

Belakangan ini, bangsa Indonesia disibukkan dengan persoalan toleransi umat beragama. Sehubungan dengan mencuatnya kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Seperti pembakaran rumah ibadah, bentrokan antar warga yang berbeda agama, tindakan terorisme dengan peledakkan bom di tempat-tempat keramaian, dan unjuk rasa-unjuk rasa yang dilatarbelakangi oleh fanatisme beragama. Sehingga hal ini dikhawatirkan dapat berakibat terancamnya kerukunan umat beragama serta terpecahbelahnya persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah terbina sejak lama. Karena itu, perlu dikuatkan kembali pembinaan toleransi umat beragama di antara warga bangsa Indonesia untuk menjaga Bhineka Tunggal Ika sebagai pilar berbangsa dan bernegara.

            Sebelumnya tentu kita harus tahu dulu, apakah toleransi itu? Toleransi dapat diartikan saling menghargai dan menghormati. Toleransi umat beragama, berarti saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Sebagai bangsa yang beragama, tentunya masyarakat Indonesia harus membina toleransi. Maksudnya, penganut agama yang mayoritas mesti menghargai penganut agama yang minoritas; dan sebaliknya penganut agama yang minoritas harus menghormati penganut agama yang mayoritas. Sehingga dengan toleransi ini diharapkan dapat tercipta dan terbina kerukunan umat beragama dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

            Pertanyaan berikutnya, mengapa kita selaku warga dan bangsa Indonesia mesti membina toleransi umat beragama? Untuk jawabannya di antaranya adalah sebagai berikut:

            Pertama, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam baik dari segi suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama. Dari segi agama misalnya, agama yang resmi diakui oleh Negara ada enam, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Dengan demikian supaya tercipta kerukunan, maka antar umat beragama itu harus membina toleransi. Apabila toleransi umat beragama ini dapat terbina dengan baik, maka persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dapat terjaga. Tetapi sebaliknya, jika terjadi konflik dan pertentangan antar umat beragama, maka akan terjadi kekacauan, kekerasan, dan kerusuhan antar warga yang akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka dalam Negara yang beragam seperti Indonesia, yang namanya toleransi umat beragama mutlak harus dibina dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

            Kedua, karena semua agama dapat dipastikan mengajarkan tentang toleransi, yakni ajaran tentang keharusan saling menghargai dan menghormati antar pemeluk agama yang berbeda. Dalam keyakinan agama, sekalipun setiap agama meyakini ajaran tentang kebenaran agamanya, tetapi dalam waktu yang sama mengakui keberadaan agama-agama yang lain. Sehingga jangan sampai terjadi karena perbedaan agama atau keyakinan, di antara pemeluk agama saling serang, bermusuhan, dan bertindak kekerasan kepada kelompok agama lain atas nama agama tertentu. Dalam hal ini tentu semua agama menghendaki kebaikan, keharmonisan, kerukunan, dan kedamaian untuk semua umat manusia di dunia. Misalnya agama Islam menghendaki menjadi rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam. Begitu pula agama Kristen Katolik maupun Protestan menginginkan dapat menebarkan cinta kasih kepada seluruh umat manusia. Juga agama Hindu, Budha, dan Konghucu tentunya menghendaki kedamaian dan ketentraman bagi semua penduduk bumi ini. Untuk mencapainya diperlukan saling menghargai dan menghormati antar umat beragama. Karena itu, tidak akan ada satu agama pun yang mengajarkan tindakan kekerasan dan kekejaman di antara manusia. Apabila semua penganut agama mengamalkan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya, maka akan tercipta toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

            Ketiga, karena Negara Indonesia adalah Negara yang mengakui akan adanya agama-agama yang dianut oleh warganya sekaligus menjamin kebebasan untuk melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Hal ini berdasarkan Sila Pertama Pancasila, yaitu: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Juga Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 tentang Agama, yaitu Ayat (1) Negara Berdasar Atas Ketuhanan Yang Maha Esa; dan Ayat (2) Negara Menjamin Kemerdekaan Tiap-Tiap Penduduk Untuk Memeluk Agamanya Masing-Masing dan Untuk Beribadat Menurut Agamanya dan  Kepercayaannya Itu.

            Keempat, karena terjadinya kekerasan dan kerusuhan yang mengatasnamakan agama sebenarnya bukan disebabkan ajaran agama itu sendiri. Sebab semua agama mengajarkan cinta kasih dan kedamaian, tidak mengajarkan tindakan kekerasan dan kerusuhan. Berarti terjadinya tindakan kekerasan di tengah-tengah masyarakat sebenarnya bukan karena agama, tetapi karena kesalahpahaman, ketidakadilan, kesenjangan, kemiskinan, dan hasutan-hasutan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

            Kelima, karena di tengah-tengah masyarakat terdapat petuah dan pepatah yang sudah menjadi kebijaksanaan masyarakat daerah setempat. Misalnya di masyarakat Sunda ada pepatah, “Silih asah, silih asih, silih asuh”. Pepetah ini mengajarkan supaya dapat membina hidup rukun dengan saling memperhatikan antara yang satu dengan yang lainnya. Ada juga petuah, “Ka cai kudu jadi saleuwi ka darat kudu jadi salebak”. Petuah ini mengandung pengajaran, bahwa dalam kehidupan kita harus dapat hidup bersama dengan penuh kekeluargaan dan persahabatan. Juga ada istilah “Sabilulungan”, “Sauyunan”, atau “Gotong Royong”. Ini semua menunjukkan, bahwa warga masyarakat Indonesia harus hidup rukun, harmonis, dan damai di tengah perbedaan dan keragamaan bahasa, budaya, dan agama.

Trilogi Toleransi Umat Beragama

            Oleh karena itu, untuk membina toleransi umat beragama, ada trilogi (tiga pandangan) toleransi yang harus dijaga dan dipelihara secara baik oleh semua lapisan masyarakat, yaitu:

            Pertama, toleransi intern (di dalam) umat beragama. Tak dipungkiri, bahwa di dalam satu agama pun terdapat perbedaan pendapat dan pemahaman. Misalnya dalam agama Islam, terdapat beberapa perbedaan pemahaman dan pelaksanaan dalam ibadah. Seperti dalam pelaksanaan shalat sunat tarawih pada bulan suci Ramadhan, ada sebahagian umat Islam yang melaksanakan shalat tarawih dengan sebelas rakaat, dan ada juga sebahagian lagi yang melaksanakannya dengan duapuluh tiga rakaat. Juga dalam pelaksanaan shalat shubuh, ada sebahagian yang membaca qunut, ada juga sebahagian lagi yang shalat shubuhnya tanpa membaca qunut. Adanya perbedaan ini, karena perbedaan pemahaman terhadap hukum-hukum Islam. Sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran pokok agama Islam yang menyangkut rukun iman dan rukun Islam, maka adanya perbedaan pemahaman dan pelaksanaan ibadah itu dapat dibenarkan. Di sinilah perlunya saling memahami dan menghargai pemahaman yang berbeda di dalam agama Islam sendiri. Jangan sampai dengan perbedaan ini, di kalangan umat Islam sendiri terjadi gontok-gontokkan dan perpecahan.

            Terjadinya perpecahan dan permusuhan inilah sebenarnya yang dilarang oleh agama. Karena dalam agama Islam sangat ditekankan pembinaan ikatan keleluargaan dan persaudaraan. Dalam Alquran diungkapkan, bahwa di antara orang yang beriman itu bersaudara, maka bereskanlah antara saudaramu apabila terjadi perselisihan (QS. Al-Hujuraat [49]:10). Dalam hadis pun dikatakan, bahwa di antara umat Islam itu bagaikan satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, maka yang lainnya pun ikut merasakan sakit. Atau umat Islam itu bagaikan sebuah bangunan yang berdiri kokoh yang antara tiang-tiangnya salit menguatkan. Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan, bahwasannya perpecahan itu akan mengundang laknat, sedangkan perbedaan akan menjadi rahmat di kalangan umat Islam.

            Sedangkan perihal terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaan ibadah masih bisa diterima, sepanjang tidak menimbulkan perpecahan dan permusuhan di kalangan umat Islam sendiri. Rasulullah saw sendiri menerima akan adanya perbedaan pelaksanaan ibadah di kalangan umatnya. Misalnya dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Nabi Muhammad saw kedatangan dua orang pemuda yang mengisahkan pengalamannya. Kedua orang pemuda itu bertutur, “Pada suatu hari kami berdua melakukan perjalanan ke sebuah hutan. Tiba-tiba kami merasa sudah masuk waktunya shalat dzuhur. Lalu kami mencari air untuk wudlu, tetapi tidak mendapatkannya. Maka kami memutuskan untuk bertayamum dengan tanah sebagai pengganti dari wudlu untuk shalat. Setelah shalat dzuhur selesai, kami memutuskan untuk segera pulang. Di tengah perjalanan pulang tak sengaja kami menemukan sumber mata air, dan waktu shalat dzuhur masih ada. Maka menghadapi keadaan seperti ini di antara kami berdua berselisih pendapat. Akhirnya di antara kami ada yang memutuskan berwudlu dan shalat lagi. Sementara yang seorang lagi tetap pada pendiriannya untuk tidak mengulangi shalatnya. Atas peristiwa ini, ya Rasulullah saw, perbuatan mana yang paling benar?” Maka Rasulullah saw bersabda, “Yang berwudlu dan melakukan shalat lagi itu sudah benar. Sedangkan yang tidak mengulangi shalat lagi itulah yang cocok dengan sunnahku”. Berdasarkan riwayat ini, berarti dalam pelaksanaan ibadah dimungkinkan adanya perbedaan, karena adanya pilihan-pilihan yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam pelaksanaan ibadah tersebut.

            Kedua, toleransi antar umat beragama. Sekalipun di antara kita berbeda agama dan keyakinan, tetapi tetap saja kita harus saling menghargai dan menghormati perbedaan tersebut. Kita selaku umat Islam misalnya, jangan sampai memaksakan keyakinan agama kita kepada penganut agama lain. Begitu pula penganut agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu jangan sampai memaksakan keyakinan mereka dan menjelekkan keyakinan agama yang lain. Karena kalau hal ini dibiarkan terjadi, maka akan rusaklah kerukunan antar umat beragama dan akan menimbulkan tindakan kekerasan antar pemeluk-pemeluk agama yang berbeda.

            Oleh karena itu, dalam ajaran agama Islam sangat menekankan toleransi antar umat beragama. Misalnya dalam ajaran Islam tidak boleh adanya tindakan paksaan dan kekerasan dalam beragama. Karena dalam menjalankan agama itu harus berdasarkan keimanan, ketulusan, dan kesadaran yang lahir dari dirinya sendiri. Islam pun melarang menghina tuhan-tuhan agama yang lain, karena nanti akan terjadi saling menghina tuhan tanpa pengetahuan. Islam juga melarang penghancuran rumah-rumah ibadah agama apapun juga, karena nantinya tidak akan ada lagi orang-orang yang mengagungkan tuhan-tuhan karena tempat-tempat sucinya sudah dihancurkan.

            Untuk mengokohkan toleransi antar umat beragama, dalam ajaran Islam pun dikembangkan yang namanya ukhuwwah, yakni persaudaraan. Sehingga ada yang disebut dengan ukhuwwah basyariyyah, yakni persaudaraan sesama manusia sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi ini. Ada juga yang disebut dengan ukhuwwah wathaniyyah, yaitu persaudaraan sebangsa dan setanah air yang sama-sama diciptakan sebagai bangsa Indonesia yang beragam bahasa, budaya, dan agama. Dalam Alquran diungkapkan:

            Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujuraat [49]:13).

            Juga dalam sejarah perjalanan dakwah Rasulullah saw dikisahkan, ketika Beliau dan para sahabatnya melakukan hijrah (berpindah) dari Mekkah ke Madinah, maka kehadiran Rasulullah saw disambut dengan gegap gempita oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kaum Muslimin tetapi juga kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen) yang ada di Madinah menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kemudian dalam pidato pertamanya, Rasulullah saw menyampaikan, “Wahai manusia, sebarkanlah salam kedamaian, sambungkanlah tali persaudaraan, berilah makan orang yang kelaparan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang masih terlelap tidur. Maka kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan dan kedamaian”. Di sini terlihat, bahwa ajaran Islam sangat menekankan kedamaian dan toleransi antar umat beragama. Dalam pidatonya tersebut, Rasulullah saw sedikit pun tidak menyinggung keyakinan agama yang lain. Bahkan Beliau menekankan untuk menyebarkan kedamaian, menyambungkan persaudaraan, dan membantu orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.

Dengan demikian, toleransi antar umat beragama dapat diwujudkan dengan tidak menjelekkan keyakinan agama lain dan tidak mengganggu peribadahan-peribadahan mereka. Biarkan mereka beribadah dengan tenang dan damai sesuai dengan keyakinannya. Tetapi kita tidak ikut-ikutan mengikuti tata cara dan pelaksanaan ibadah mereka. Karena hal ini adalah wilayah keyakinan dan ritual peribadahan yang sudah diatur secara tersendiri oleh masing-masing agama. Dalam ajaran Islam sudah jelas aturannya, yakni “Lakum diinukum wa liya diin”; artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Dalam Alquran Allah SWT berfirman:

            Artinya: “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku’.” (QS. Al-Kaafiruun [109]:1-6).

            Toleransi antar umat beragama juga dapat diwujudkan dalam kehidupan keseharian yang bersifat hubungan sosial kemasyarakatan. Misalnya dalam transaksi jual-beli kebutuhan pokok, boleh dilakukan oleh orang-orang yang berbeda agama asal tidak saling menipu dan merugikan. Dalam kegiatan ngaronda atau Siskamling (sistim keamanan lingkungan), tentu semua warga dilibatkan tanpa memandang perbedaan agama. Juga dalam kegiatan gotong royong membersihkan solokan, memperbaiki jalan, got, dan jembatan; tentu semua warga harus ikut karena menyangkut kebersihan lingkungan dan kenyamanan hidup bersama dalam masyarakat. Begitu pula bila terjadi bencana banjir, longsor, kebakaran, dan gempa bumi, tentu semuanya harus saling menolong dan membantu supaya terbebas dari bahaya dan ancaman bencana tersebut.

            Ketiga, toleransi umat beragama dengan pemerintah. Di sini pemerintah diharapkan berperan secara aktif dalam membina toleransi umat beragama. Sesuai dengan wewenangnya, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan atau peraturan mengenai kerukunan umat beragama. Misalnya pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai prosedur atau tata cara pendirian rumah ibadah, supaya tidak terjadi perselisihan di antara warga yang berbeda agama. Pemerintah juga membentuk yang namanya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dari mulai tingkat pusat sampai tingkat daerah. FKUB ini berfungsi sebagai wadah berkumpulnya perwakilan tokoh-tokoh agama untuk mencegah dan memecahkan persoalan konflik antar umat beragama dengan cara yang sebaik-baiknya. Pemerintah pun melalui kebijakannya meliburkan secara nasional pada saat perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti libur lebaran Idul Fitri-Idul Adha, Maulid Nabi saw, Isra-Mikraj, Hari Raya Waisak, Kenaikan Isa Al-Masih, Hari Raya Nyepi, dan Hari Raya Natal. Pemerintah pun harus hadir di tempat kejadian dengan memberikan keamanan dan ketertiban apabila terjadi kerusuhan atau tindakan kekerasan atas nama agama. Kemudian karena Negara kita adalah Negara hukum, maka pemerintah pun harus menyusun dan menetapkan hukuman yang berat bagi pelaku-pelaku kekerasan atas nama agama, supaya mereka jera dan tidak mengulangi perbuatan yang serupa di masa-masa yang akan datang.

Kesimpulan

            Demikian di antara upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh semua warga bangsa Indonesia untuk membina toleransi umat beragama. Karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama, maka yang namannya toleransi dan kerukunan umat beragama adalah harga mati. Ada tiga pandangan (trilogi) yang dapat dilakukan dan dikembangkan dalam rangka membina toleransi umat beragama di Indonesia, yaitu membina toleransi intern (di dalam) umat beragama; membina toleransi antar umat beragama; dan membina toleransi umat beragama dengan pemerintah. Maka dengan terciptanya toleransi umat beragama, diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang rukun, santun, dan damai.

            Wallahu A’lam Bish-Shawaab.

25/03/2021

0 responses on "PENTINGNYA MEMBINA TOLERANSI UMAT BERAGAMA"

    Leave a Message

    Your email address will not be published.

    Balai Diklat Keagamaan Bandung © 2021
    X